Senin, 15 Februari 2010

SEKS PADA WANITA MENOPAUSE

Apakah wanita yang sudah menopouse akan lebih cepat terserang penyakit dan cepat lelah?

Pada saat menopause, wanita mengalami kondisi di mana hormon seksual (terutama estrogen dan progesteron) yang sebelumnya diproduksi menjadi tidak diproduksi lagi. Konsekuensi dari tidak diproduksinya lagi hormon-hormon ini adalah terjadinya penyakit-penyakit inflamasi yang bersifat kronik, seperti penyakit jantung, kanker, osteoporosis, Alzhaimer, dan penyakit autoimun.


Sebelum masa menopause, kadar estrogen seimbang dan inflamasi/radang yang terjadi umumnya sedang-sedang saja dan tubuh pada dasarnya berfungsi secara efektif untuk mencegah masuknya kuman-kuman yang merugikan. Hal ini akan berangsur-angsur berubah seiring dengan berhentinya produksi estrogen pada masa menopause.
Penelitian membuktikan, pada wanita dengan kadar estrogen yang rendah seperti pada wanita menopause lebih berisiko terhadap terjadinya proses inflamasi kronik. Beberapa teori mengatakan hubungannya adalah dengan rendahnya produksi estrogen, menyebabkan penambahan berat badan yang berarti bertambahnya jumlah sel lemak. Sel lemak memproduksi "protein cytokines" yang bersifat pro-inflamasi. Dengan bertambahnya jumlah sel lemak maka protein cytokine ini juga bertambah dan berisiko dengan semakin mudahnya terpapar infeksi yang bersifat kronik


Tanda dan gejala yang menyertai menopause:


1. Rasa panas di muka (tiba-tiba panas dan berkeringat).

2. Sakit kepala, pelupa, lekas marah.

3. Perasaan cemas gelisah.

4. Jantung berdebar-debar.

5. Gangguan tidur, mudah tersinggung, cepat lelah.

6. Tulang-tulang sakit, nyeri sendi, nyeri tulang belakang.

7. Kesemutan ditangan dan kaki.

8. Kulit mulai keriput, rambut mulai rontok.

9. Produksi cairan vagina berkurang sehingga sakit saat senggama.

10. Libido seks terganggu, konsentrasi terganggu.

11. Kurang percaya diri.

12. Kadar kolesterol meningkat dalam darah.


Jadi, jika dibandingkan dengan wanita yang belum menopause, wanita yang sudah menopause memang akan lebih mudah terserang penyakit seperti penyakit jantung, kanker, osteoporosis, Alzhaimer, dan penyakit autoimun.


Apakah akan cepat lelah? Karena pada wanita menopause biasanya mengalamai insomnia (sulit tidur), keringat, dan kepanasan di malam hari, hal ini akan mengganggu istirahat/tidur di waktu malam. Akibatnya pada siang hari akan terjadi kelelahan. Penyebab lainnya juga bisa akibat reaksi hormonal yang menyebabkan perubahan metabolisme tubuh.


Pencegahan yang bisa dilakukan adalah:


1. Mengonsumsi makanan-makanan bergizi yang secara alami bersifat anti-inflamasi, seperti whole grain, buah-buahan, ikan, sayuran berdaun hijau tua, kacang-kacangan, dan memasak dengan minyak zaitun. Hindari konsumsi makanan yang mengandung trans fat, seperti margarin.

2. Berolahraga yang teratur, sebab olahraga teratur akan mengurangi jumlah deposit lemak.

3. Merokok, minum alkohol, dan obat-obatnan harus dihindari karena bersifat pro-inflamasi dan merusak jaringan yang sehat.

4. Hindari stres, karena stres dapat merusak sistem pertahanan tubuh.

5. Tidur yang cukup akan sangat bermanfaat untuk mencegah proses inflamasi kronik.


Meskipun terlihat ada hubungan antara menopause dengan proses peradangan, namun hal ini tentunya masih harus dipelajari lebih lanjut untuk lebih membuktikan hubungannya.


WANITA MENOPAUSE DAPAT MERASAKAN ORGASME


BANYAK pasangan merasa cemas setelah menopause kehidupan seks mereka akan menjadi tidak normal. Parahnya lagi, mereka pun tidak bisa mengalami orgasme. Benarkah?

“Tidak benar. Wanita yang mengalami menopause tetap mengalami orgasme. Bahkan, frekuensinya pun menjadi lebih sering dibandingkan sebelum mengalami menopause,” jelas dr Handrawan Nadesul.

biasanya semakin lama perkawinan maka semakin mudah bagi pasangan mengalami orgasme. Nah, tidak menutup kesempatan pula bagi wanita yang sudah menopause bisa berorgasme lebih dari sekali. Menurut Handrawan lagi, menopouse merupakan masa ketika siklus bulanan normal wanita (haid) berhenti. Umumnya ini terjadi pada saat wanita berusia 45 tahun.

“Pada saat-saat mendekati masa menopause, tingkat estrogen (hormon seks penting wanita) mulai mengalami penurunan. Penurunan kadar estrogen ini dapat membawa sejumlah dampak, seperti lapisan vagina menjadi tipis dan perlendiran pun sedikit sehingga ketika berhubungan intim wanita mengalami rasa nyeri. Itulah yang menyebabkan pasangan tidak bisa mendapatkan orgasme,”

Meskipun terjadi penurunan hormon estrogen, Handrawan pun memastikan bahwa wanita tak perlu takut untuk berhubungan intim. “Ini sebenarnya bukan masalah yang harus dicemaskan. Karena semua masalah ini bisa diatasi dengan mengikuti anjuran dari dokter. Dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat hormon (suplemen phyto estrogen) atau memakai krim khusus bagi wanita yang tidak mengalami risiko penyakit kanker payudara atau kandungan,”

Di samping itu, Handrawan menambahkan bahwa simpati, keterbukaan, pengertian, serta rasa kasih sayang dari pasangan merupakan hal-hal yang ikut membantu pasangan mendapatkan orgasme.



Tidak ada komentar: